Hermes
Ini adalah cerita selingan sebelum kita menuju pada
kisahku bersama Lova. Kisah ini dimulai saat aku putus dengan Raka, dan
kali ini tidak berhubungan dengan Lady Gaga tapi dengan salah satu Artis
American Idol.
Aku adalah penggemar penyanyi AI tsb sebelum menjadi penggemar Gaga. Itu
membuat banyak orang-orang dengan idola yang sama memfollow Twitter ku, salah
satunya adalah (kita sebut saja) Bagas.
Bagas sangat mengidolakan penyanyi AI yang sama sepertiku saat itu, karena itu
kami dapat mengobrol dengan baik. wajahnya tampan seperti orang arab, hidungnya
mancung dan alisnya tebal. Entah kenapa begitu aku melihatnya, aku langsung
menyukainya. Tapi aku diam saja, aku tidak banyak berbicara di twitter
dengannya, tapi setiap kali ia membalas mentionku, rasanya senang sekali! Dia
juga sangat ramah dan tidak membosankan.
Semakin hari, rasa sukaku semakin bertambah padanya, tapi sepertinya dia tidak
sepertiku, dia menyukai perempuan, oleh karena itu aku beberapa kali
mengurungkan niat untuk mengutarakan perasaanku padanya meskipun aku tidak
mengharapkan balasan apapun, paling tidak aku akan sangat lega setelah
mengungkapkan kebenaran padanya, bahwa aku suka dia.
Hari demi hari, aku makin tidak bisa menahan lagi, aaaaah rasanya kepala ini
mau meledak setiap kali melihatnya bersliweran di TL ku, aku suka sama kamu!
Akhirnya, akhirnya aku memberanikan diri mengiriminya DM yang berisi tentang
perasaanku padanya, tak lupa meminta maaf karena telah lancang berbuat
demikian.
Dm terkirim...
Aku hanya tinggal menunggu balasannya.
Esoknya dia membalas DM ku, dan dia berkata 'serius bang? Tapi gue gak
begitu..'
Ah... Jawaban yang sudah kuduga, aku maluuuu kenapa juga aku harus berkata
seperti itu padanya! Akhirnya aku memutar otak bagaimana caranya aku tidak
membuat kesan yang buruk dihadapannya. Aku bilang padanya kalau itu hanya
bercanda dan ngetest dia doang, ga ada maksud lebih. Dan syukurnya, dia percaya
kemudian hubungan kami seperti dulu lagi. Dia tidak mengungkit itu dan begitu
pula denganku.
Hari-hari kujalani lagi seperti biasa. Namun aku lupa apa yang terjadi saat itu
hingga suatu hari aku memberanikan diri berkata kembali kalau aku menyukai dia.
Dan dia membalas pesan ku itu dengan nada sinis.
'Lo masih aja ngetest gua bang! Gue gak begitu! Jahat lo!'
Namun akhirnya kujelaskan semuanya bahwa kata-kata itu benar apa adanya sebagai
ungkapan perasaanku padanya, aku meminta maaf dan begitu merendahkan diri
disana karena aku sudah memiliki perasaan seperti itu padanya dan aku tidak
begitu ingat apa yang terjadi selanjutnya sampai akhirnya suatu hari dia
mengirim pesan padaku.
'Bang, kok semenjak lo bilang itu ke gua, gua jadi mikirin lo terus ya..'
Kurang lebih yang kuingat ia mengirim kata2 itu dan itu sangat membuatku
terkejut. Aku bertanya padanya apakah ia juga menyukai laki-laki? Apakah
perasaanku sampai padanya? Apa yang dia rasakan saat ini!? Tapi akhirnya semua
kembali pada ketidakpastian karena dia tidak bisa memastikan perasaannya padaku
dan juga tidak tahu tindakan apa yang harus diambil untuk mensiasati perasaan
aneh tersebut.
Aku berjanji padanya akan selalu ada saat ia butuh, tidak pernah
meninggalkannya dan akan selalu menjaga perasaannya agar seandainya ia benar
menyukai laki-laki, ia tidak menyukai sembarang orang yang bisa menyebabkannya
hancur. Dengan naif aku berkata seperti itu, tapi apa daya, menjaga diri
sendiri pun aku belum bisa. Aku tidak bisa terus melihat ketidakpastian yang
terus merudungnya, sampai akhirnya aku menjadi milik orang lain.
Padahal kita sudah sedekat itu Gas, tapi aku selalu melihatmu dan pasti akan
selalu ada disaat kamu butuh. Andai saja aku bisa menjadikanmu milikku saat itu
pasti aku bahagia sekali. Tapi itu tidak masalah, lebih baik tidak sama sekali.
Lebih baik seumur hidup kau tidak pernah menjadi milik pria manapun.
(Cerita tentang Bagas ini akan berlanjut, aku akan ceritakan berurutan dengan
kisah lainnya, dan sekarang kita akan melanjutkan cerita ke kisah selanjutnya)
No comments:
Post a Comment